Madina-BeritaTerbaru.Wiki.
Akibat pemberitaan yang terus-menerus yang dilakukan media zonadinamika kepada pihak satpol PP kabupaten Mandailing Natal. akhirnya pada tanggal14/2 Sabtu malam pihak satpol PP melakukan razia pekat yang didampingi subdenpom TNI untuk melakukan razia ke sejumlah tempat hiburan malam begitu juga dengan hotel yang ada di seputaran panyabungan.

Namun dalam razia tersebut terasa ganjil.pasalnya pihak satpol PP tidak mengikutsertakan Kabid Trantibum Ismail Dalimunthe selaku kepala bidang yang menaungi kegiatan tersebut.Dalam kegiatan razia tersebut dipimpin langsung oleh kasat pol PP Mandailing Natal Lis Mulyadi.

Ketidak ikut sertaan Kabid trantibum pol PP Ismail Dalimunthe dalam razia tersebut disinyalir ada ketidakcocokan antara kasatpol PP Mandailing Natal dengan kabib trantibum Ismail Dalimunthe.

Dugaan ketidakcocokan antara Kabid dengan kasat pol PP Mandailing Natal bukan tanpa alasan. Sebab Ismail sebelumnya mengaku tidak pernah diberikan tugas oleh pimpinan kasatpol PP Mandailing Natal LisMulyadi untuk melakukan razia. Padahal menurut Ismail mereka ingin melakukan razia karena banyaknya laporan masyarakat terkait tempat hiburan malam dan juga hotel yang menjadi penyakit muda-mudi saat ini. namun pemimpin mereka tidak pernah menginstruksikan untuk melakukan razia.

Pernyataan mengejutkan juga disampaikan Kabid trantibum pol PP Mandailing Natal Ismail dalimunthe. Ismail mengaku tidak pernah menerima anggaran kegiatan razia penyakit masyarakat (pekat) dan razia pedagang kaki lima tahun 2020.

Pernyataan tersebut dilontarkan Ismail dalam postingan Facebook yang menanyakan keberadaannya yang tidak ikut serta dalam kegiatan razia yang dilakukan satpol PP Sabtu malam kemarin. Ismail juga mengaku tidak mengetahui razia yang dilakukan oleh pimpinannya dan tanpa ada pemberitahuan kepadanya.

“Maklumlah kita dikantor saat ini tidak ada lagi saling menghargai. Padahal selama ini kita sudah membuktikan kinerja kita kepada pemimpin selaku kasat yang terhormat. Khususnya kami di bidang trantibum yang memang membidangi ketentraman dan ketertiban umum.”ucap Ismail di salah satu postingan Facebook milik Oliando batubara

Ismail juga menjelaskan di tahun 2020. kami berusaha semaksimal mungkin menjalankan tupoksinya. Dan sudah banyak yang kami amankan baik itu anak dibawah umur begitu juga dengan oknum kepala desa di Madina yang terjaring razia pekat.

Dan tidak lupa juga dengan pedagang kaki lima yang berjualan di trotoar maupun di persimpangan jalan yang selama ini pihak satpol PP sudah bersusah-payah untuk menertibkannya.

Namun saat ini kata Ismail mereka tidak ada lagi melakukan monitor di lapangan. Akibatnya banyak tempat hiburan malam dan juga hotel yang semakin merajalela begitu juga dengan pedagang kaki lima yang kembali membuka dagangannya di tempat yang dilarang oleh pemerintah.

Ismail juga mengatakan pada tahun 2020 anggaran razia pekat begitu juga dengan kaki lima tidak pernah diterimanya 100 perak pun.”makanya perlu kita ketahui selamat tahun 2020 yang memikirkan makan rokok anggota selama melakukan razia pekat.Itu semua saya yang tanggung.

“namun apa balasan yang diberikan kasatpol PP selaku pemimpin kami yang terhormat Kepada kami dalam pengorbanan kami di lapangan.Yang terkadang nyawa kami sebagai taruhan. Bagaimana nanti pertanggung jawabannya apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan kepada kami.Tapi apalah daya cuma fitnah yang diberikan pimpinan kami terhadap kami.

Tak hanya itu Ismail juga mengajak masyarakat untuk mempertanyakan apa benar dana untuk melakukan razia pekat begitu juga dengan operasi pedagang kaki lima tidak ada dalam setahun.”ucap Ismail.

(Saepul)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here