Padang Pariaman-BeritaTerbaru.Wiki. Ditengah masyarakat menjerit dampak merebaknya virus Corona, yang membuat hampir lumpu perekonomian negara, namun agaknya kondisi prihatin ini tidak membuat pihak SMPN 02 Batang Anai Padang Pariaman Sumatera Barat untuk memberikan yang terbaik, namun sayang, program pemerintah dalam menunjang dunia pendidikan diajdikan jadi ajang korupsi walaupun dalam Pandemi Covid 19.

Kepala sekolan SMPN 02 Batang Anai  Padang Pariaman Sumatera Barat yang disebut-sebut dibawah komando Dafri,masih tutup mulut saat di konfirmasi oleh media ini via WhaatApp, sama hal ibarat setali tiga uang, aksi tutup mulut atau diduga dilindungi oleh PLT Kadi Pendidikanpun saat di konfirmasi turut tutup mulut.

Dugaan korupsi ini adalah dalam pengalokasian dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) tahun 2020. Dugaan modus operandi yang dilancarkan adalah dengan rekayasa angka dan kegiatan fiktif, nilainyapun sangat fantastis.

Untuk diketahui pada tahun 2020
SMPN 02 Batang Anai Padang Pariaman mendapatkan anggaran dana BOS tahun 2020, pada TAHAP 1 Rp.172.590.000, tahap 2 Rp.230.120.000, tahap 3 Rp.195.232.471.

Dalam proses alokasi dana BOS tersebut terdapat kegiatan pembelajaran dan ekstrakurikuler. Dimana kegiatan ekstrakurikuler pertama menghabiskan biaya Rp.52.204.700, tahap 2 Rp.30.672.100, tahap 3 Rp.47.730.950.

Karena pandemi Covid 19, maka sesuai surat edaran Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Nomor 15 Tahun 2020 tentang Pedoman Penyelenggaraan Belajar Dari Rumah Dalam Masa Darurat Penyebaran Covid-19. Diperkuat Surat Edaran Mendikbud Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Pendidikan Dalam Masa Darurat Coronavirus Disease (Covid-19).

Artinya semua kegiatan belajar murid ada di rumah atau secara daring, yang jadi pertanyaan kenapa muncul anggaran pengeluaran dana BOS untuk kegiatan ekstrakurikuler hingga sampai akhir tahun 2020, yang nota bene kegiatan ini diluar kelas sekolah? Yang mana kehadiran tersebut terkesan mencurigakan atau asal catat.

Dugaan Mark up pun terjadi pada sejumlah kegiatan dari tahap satu hingga tahap tiga, seperti kegiatan asesmen/evaluasi pembelajaran Rp.22.572.800,Rp.2.331.000,Rp.16.402.000. administrasi kegiatan sekolah Rp.10.640.000, Rp.57.978.000,Rp.17.003.740.

Salah seorang pengamat pendidikan pada media ini mengatakan, munculnya biaya kegiatan pembelajaran dan ekstrakurikuler dengan nilai besar sangat mencurigakan, yang diduga pihak sekolah berupaya melakukan dugaan korupsi dana pendidikan di tengah Pandemi covid-19.

Dikatakan, semua tahu, sistem pendidikan hingga saat ini masih dilakukan secara online, apalagi tahun 2020, terus yang eskul dimana dilakukan, hingga muncul angka besar, belum lagi kerumunan yang dilarang oleh pemerintah.

Munculnya biaya eskul ini, penegak hukum harus cermat dan melakukan penyelidikan, jangan biarkan oknum pendidik mengelabui publik, itu sama saja menjual atas nama murid guna melakukan korupsi.harap sumber tadi.

(Zaherman)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here