Medan-BeritaTerbaru.Wiki.Aroma atas dugaan penyalahgunaan Dana Bos di SMA Swasta ST. Thomas 1 Medan yang agaknya perlu disikapi oleh pihak penegak hukum, dugaan ini dengan modus operandi kegiatan siswa dimasa darurat Corona virus 19.

Diketahui, Sesuai surat edaran Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Nomor 15 Tahun 2020 tentang Pedoman Penyelenggaraan Belajar Dari Rumah Dalam Masa Darurat Penyebaran Covid-19. Diperkuat Surat Edaran Mendikbud Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Pendidikan Dalam Masa Darurat Coronavirus Disease (Covid-19).yang melarang kegiatan belajar dilingkungan sekolah, diwajibkan belajar secara daring.

Kegiatan ekstrakurikuler atau ekskul adalah kegiatan tambahan yang dilakukan di luar jam pelajaran yang dilakukan baik di sekolah atau di luar sekolah dengan tujuan untuk mendapatkan tambahan pengetahuan, keterampilan dan wawasan serta membantu membentuk karakter peserta didik sesuai dengan minat dan bakat masing-masing.

Dan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 060/U/1993 dan Nomor 080/U/1993, kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan yang diselenggarakan di luar jam pelajaran yang tercantum dalam susunan program sesuai dengan keadaan dan kebutuhan sekolah, dan dirancang secara khusus agar sesuai dengan faktor minat dan bakat siswa.

Demikian di jelaskan oleh Jhon Feteri Girsang ketua Dewan Pimpinan Daerah Provinsi Sumatera Utara LSM Gempar Peduli Rakyat Indonesia (LSM GPRI) pada media ini, saat berbincang-bincang terkait alokasi dana BOS SMA Swasta ST. Thomas 1 Medan.dikatakan oleh Jhon Girsang, alokasi dana BOS khusus untuk kegiatan kegiatan ekstrakurikuler tersebut sangat dicurigai dan disinyalir Fiktik karena kegiatan tersebut kurang memungkinkan di laksanakan karena masa pandemi covid-19.

Sesuai data SMA Swasta ST. Thomas 1 Medan, bahwa pada tahap kedua Kegiatan pembelajaran dan ektra kurikuler Siswa menghabiskan anggaran RP. 181.391.800.padahal tahap ini seluruh murid sudah belajar secara online, besaran biaya itu jauh lebih besar dari tahap satu sebelum pandemi yang hanya sebesar Rp. 87.200.000.selain untuk kegiatan eskul, kegiatan pemeliharaan sarana. Dan prasaranapun sangat di mencurigakan dan diduga terjadi pembengkakan biaya alias Mark up.

Penggunaan Anggaran Dana BOS juga pada tahap kedua dimana sudah memasuki tahap pandemi COVID 19 yang sedang melanda negeri ini dari bulan lima (5) dimana kegiatan ini memang tidak ada sesuai anjuran dari Pemerintah Pendidikan Pusat yang melarang untuk diadakan pembelajaran tatap muka di Sekolah.
Pada tahap yang ketiga pada Kegiatan yang sama juga sebesar Rp.106.518.000.

Bahkan pihaknya sudah melakukan klarifikasi dengan pihak sekolah, namun pihak sekolah bungkam.

“Kami sudah mencoba berkirim surat klarifikasi kepada pihak sekolah, namun pihak sekolah tidak menunjukan itikat baik untuk memberikan jawaban atas surat yang kami kirim” terang Jhon Girsang.

Bila Cawir Taringan selaku kepala sekolah SMA Swasta ST. Thomas 1 Medan masih ngotot tidak bersedia memberikan klarifikasi pada kami, maka LSM GPRI DPD Sumut akan menindaklanjuti dugaan ini pada pihak penegak hukum, guna dilakukan pemeriksaan pada pihak sekolah,tegas Jhon Girsang.

(Jfg)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here