Balige, BeritaTerbaru.Wiki- Sejak adanya Dana Desa (DD) maupun Alokasi Dana Desa (ADD), sejumlah pihak mulai dari tingkat Presiden, Menteri hingga Rakyat Jelata mengharap agar dana tersebut digunakan dengan tepat.

Sebagaimana disebutkan Kementerian Pedesaan bahwa ada tiga hal yang menjadi skala prioritas desa.

Tiga hal penting yang harus menjadi skala prioritas penggunaan dana desa tersebut yakni untuk pembangunan infrastruktur, pengembangan sarana prasarana kesehatan, pendidikan, serta pengembangan kapasitas ekonomi lokal.

Pembangunan infrastuktur, harus yang padat karya dengan melibatkan para pekerja dari desa yang bersangkutan dan menggunakan sumber daya alam yang tersedia.

Adapun, pengembangan sarana kesehatan dan pendidikan dapat digunakan untuk kegiatan posyandu, poliklinik desa dan juga pengembangan pendidikan anak usia dini (PAUD).

Sementara, untuk pengembangan kapasitas ekonomi lokal digunakan untuk di antaranya, mengembangkan Badan Usaha Milik Desa (Bumdes), koperasi desa maupun pengembangan sektor perkebunan, peternakan serta pertanian.

Bahwa setiap desa menyimpan potensi yang sangat besar untuk dikembangkan sehingga pembangunan di desa harus dilakukan secara terencana yaitu berdasarkan analisis atau kajian yang menyeluruh terhadap segenap potensi (kekuatan dan peluang) dan permasalahan (kelemahan dan hambatan ) yang dihadapi desa.

Namun, tampaknya hal itu tidak berlaku untuk Kepala Desa Parhabinsaran Janji Matogu, Kecamatan Uluan, dimana Oknum Kepala Desa, Jakuat Manurung konon dikabarkan nekad membeli mobil operasionalnya dengan menggunakan Dana Desa dan bahkan mobil tersebut menggunakan plat merah.

Dana Desa yang digunakan itu diduga merupakan anggaran dari tahun 2020 dan sesuai informasi bahwa pembelian mobil tersebut tanpa melalui musyawarah desa (Musdes). Tak pelak, warga desa pun jadi ribut atas tindakan yang diduga dilakukan oknum Kades itu.

Demi kebenaran informasi, beberapa awak media mencoba mencari fakta ke desa tersebut pada Kamis (08/04)
dan berhasil bertemu dengan Sekretaris Desa, D Manurung.

Dalam kesempatan itu, D Manurung membenarkan bahwa mobil tersebut merupakan aset desa dan menggunakan plat merah. “Mobil itu aset desa, bukan aset Bumdes seperti yang disebut warga,” terangnya.

Sementara itu, S Manurung, yang mengaku sebagai warga desa menuturkan kalau kepala desa kurang memiliki empati atas penderitaan yang sedang melanda Toba bahkan dunia saat ini, yakni Pandemi Corona.

“Harusnya kepala desa dan para perangkatnya fokus dalam mengurangi beban ekonomi dan membantu kesehatan warganya, bukan malah beli mobil operasional,” geramnya.

“Sebenarnya kami curiga ada permainan apa ini? Jangan jangan plat merah mobil itu palsu alias bodong! Kami harap penegak hukum turun memeriksa penggunaan Dana Desa di desa ini,” harapnya mengakhiri.

Terkait hal itu, Kepala desa Parhabinsaran Janjimatogu, Jakuat Manurung saat di konfirmasi melalui WhatsAppnya membantah bahwa mobil yang memakai plat merah tersebut bukan mobil desa melainkan mobil Bumdes.

Dan untuk mengkonfrontir informasi itu ke Direktur Bumdes, namun sangat disayangkan, Direktur Bumdes desa terkait tidak berada di kediamannya, malah beredar rumor bahwa Direktur Bumdes tersebut beberapa hari terakhir pergi meninggalkan desa tanpa ada yang mengetahui kemana perginya.

Terpisah, Camat Uluan, Henri Butarbutar ketika hendak dikonfirmasi,, dirinya tidak bersedia memberi tanggapan, malah berusaha mengelak dan meminta agar awak media menemui kepala desa saja.

“Langsung saja konfirmasi kepada kepala desanya biar lebih jelas ” ungkap Henri terdengar agak ketus. (JP).

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here